Satu: Ketukan Jendela

Malam hari yang sedikit bintangnya kala itu menemani lamunan. Lamunan seorang gadis dalam bilik kamar yang menopang dagu, menengadah ke luar jendela sampai menggemat merah kedua siku tangannya. Entah apa yang ditunggunya hingga larut malam. Berdiam ia hanyut dalam laut kesendiriannya.

Persis dengan perasaan-perasaan dingin merindu sang kekasih, semilir angin malam terus masuk merasuki sukma tanpa permisi. Dia menunggumu.

Indah terbayang hari itu, ketukan jendela pun menggema kembali di tengah gundah dan gelap.

“Aku, eumm maksudku, kamu? Tidak, maaf. Maksudku, kamu ke mana saja?”

Kaki yang sontak berdiri tergerak menjauh sejauh tiga langkah, berhasil menangkap sorot mata yang begitu jelas terlihat. Seseorang itu, dia kembali. Seperti bumerang yang datang pergi dengan tiba-tiba, walau kita tahu dan menunggu tetapi tetap saja terkejut.

Para tuan mungkin tidak mengerti bahwa betapa hati seorang gadis yang mendamba sosoknya akan begitu tulus menunggunya pulang kembali. Betapa gadis yang mendamba hatinya akan selalu percaya bahwa kamu akan kembali. Betapa gadis yang mendamba wanginya akan selalu bertekad seperti semerbak bunga-bunga taman yang indah.

Ketuklah. Ketuklah hatinya dengan lembut dan percaya bahwa dunia akan jauh lebih bahagia ketika bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima: Tak Berakhir pun, Selesai namanya

Dua: Lofi