Postingan

Lima: Tak Berakhir pun, Selesai namanya

Setelah harapan-harapan yang kutulis dan kusampaikan panjang lebar kala itu padamu. Setelah lampu pecah. Setelah banyaknya ucapan manis yang dalamnya lebih busuk dari sampah berhari-hari. Setelah perjalanan yang menurutku lumayan panjang ini. Setelah kamu sampai, dan aku tetap di sini. Kamu benar-benar tidak kembali. Aku tahu tidak pantas kudapat kata sempurna pada diriku. Aku berusaha paham pada apa yang kaupilih. Aku tahu tidak pantas kudapat bahagia yang bentuknya menjengkelkan seperti ini. Kamu benar-benar pergi. Benang merah yang berusaha kujaga agar tetap panjang dan tidak kusut, akhirnya terputus jua. Kamu benar-benar hilang. Tak ada ketukan pintu lagi. Tak ada ketukan jendela lagi. Tak ada suara yang mengejutkanku lagi. Tak ada serbuk cahaya terang yang berisi harapan lagi. Kamu benar-benar berhenti. Aku berhenti. Walau tak pernah kuketahui akhirnya, namun tetap selesai namanya. Aku mengunci diriku sendiri, dan kamu bersama pilihan bahagiamu yang lain. Tak perlu repot kau kemba...

Empat: Lampu Pecah

Raut wajah yang jarang kutemui saat kubercermin, pagi ini aku melihatnya. Murung sekali seperti tidak makan berhari-hari. Sangat tak cantik. Hembusan napas dalam menemani raut wajah itu. Bagaimana caraku menjelaskannya, aku seperti kehabisan kata per bagian. Tidak ada hasratku untuk melakukan apapun, sangat tidak ingin. Aku hanya ingin diam dan mendengarkan lagu dansa yang menenangkan, berharap tenang menghampiriku. Tapi ternyata tidak semudah itu, aku benar-benar hilang selera. Beralihku membaca beberapa halaman buku kisah cinta yang lembut dan menghangatkan hati, tapi tetap saja selera baikku tak kembali. Terlemparlah aku dalam selimut dan telungkup pula. Kali ini aku tak bisa menahannya lagi, air mataku jatuh semaunya. Rintihan suaraku yang kencang semoga tak terdengar siapapun karena kututupi diri tepat dibawah bantal. Beberapa orang telah ahli membuang rasa sedikit demi sedikit sejak masih bersama, tapi tidak untukku. Aku begitu tabu memahami diriku sendiri. Aku begitu sulit mengh...

Tiga: Prosa yang Berantakan

Banyak kusimpan kalimat-kalimat yang terususun agar menjadi satu genggam, tapi semuanya berantakan. Aku seperti hanya membuih pada setiap jalan yang kencang tiupan anginnya. Aku seperti bunga kapas yang mengelupas dan terbang hilang arah. Aku berantakan, dan kamu tidak kembali. Karena serapat apapun aku menutup pintu dan jendela agar bisa melupakanmu, tetap saja aku selalu mendapati pintu lain untuk terus merindu dan menunggumu kembali pulang. Sayangku banyak dan selalu, pulang ya, kembalilah. Aku tidak tahu sejak kapan keinginanku untuk menulis tentangmu menjadi begitu panjang. Aku tidak tahu sejak kapan harapan-harapan yang fana itu muncul menjadi tumpukan asa yang ujungnya sangat perih kurasa. Aku tidak tahu sampai kapan upayaku ini. Aku terus bertanya tentang apakah kamu benar-benar akan kembali? Apakah benar pemiliknya hanya aku saja dan tidak ada yang lain? Apakah benar kamu tidak menyimpan siapapun selain aku?   Semakin kencang jarum jam berdetak, semakin kacau pikiranku. Se...

Dua: Lofi

Malam menghampirinya setiap hari. Kau tahu bagaimana jelasnya perasaan kala menunggu? Dihalang waktu dengan iringan suara yang muncul dari jarum jam dinding berukuran besar. Menemani rindu yang mencekam, katanya. Rembulan yang nampak cantik dari sini, bercahaya teduh bersanding dengan awan malam. Riuh suara kepalanya. Gemuruh hatinya menggebu. Betapa ia merindukanmu, tuan. Harapan-harapan menjadi jejak-jejak yang melekat dan terikat. Bagaikan alunan nada piano yang menggema bersama suara hati pun pelan terdengar seperti daftar putar lofi kesukaanku. Tenang, tenteram, dan entah kenapa malah tercium pula semerbak harum anggrek ungu. Tulisan ini seperti lelucon ya? Hanya mengandalkan khayalan gadis biasa. Gadis yang tengah menunggu seseorang datang menghampiri dan menjemputnya. Gadis yang penuh dengan harapan rasa bahagia. Dia menunggu tuan hatinya. "Sudikah semesta memberikanku seorang kamu?  Yang entah siapa pun itu, aku akan tetap menunggu." Malam menjadi pengiring utama s...

Satu: Ketukan Jendela

Malam hari yang sedikit bintangnya kala itu menemani lamunan. Lamunan seorang gadis dalam bilik kamar yang menopang dagu, menengadah ke luar jendela sampai menggemat merah kedua siku tangannya. Entah apa yang ditunggunya hingga larut malam. Berdiam ia hanyut dalam laut kesendiriannya. Persis dengan perasaan-perasaan dingin merindu sang kekasih, semilir angin malam terus masuk merasuki sukma tanpa permisi. Dia menunggumu. Indah terbayang hari itu, ketukan jendela pun menggema kembali di tengah gundah dan gelap. “Aku, eumm maksudku, kamu? Tidak, maaf. Maksudku, kamu ke mana saja?” Kaki yang sontak berdiri tergerak menjauh sejauh tiga langkah, berhasil menangkap sorot mata yang begitu jelas terlihat. Seseorang itu, dia kembali. Seperti bumerang yang datang pergi dengan tiba-tiba, walau kita tahu dan menunggu tetapi tetap saja terkejut. Para tuan mungkin tidak mengerti bahwa betapa hati seorang gadis yang mendamba sosoknya akan begitu tulus menunggunya pulang kembali. Betapa gadis ...