Lima: Tak Berakhir pun, Selesai namanya
Setelah harapan-harapan yang kutulis dan kusampaikan panjang lebar kala itu padamu. Setelah lampu pecah. Setelah banyaknya ucapan manis yang dalamnya lebih busuk dari sampah berhari-hari. Setelah perjalanan yang menurutku lumayan panjang ini. Setelah kamu sampai, dan aku tetap di sini. Kamu benar-benar tidak kembali.
Aku tahu tidak pantas kudapat kata sempurna pada diriku. Aku berusaha paham pada apa yang kaupilih. Aku tahu tidak pantas kudapat bahagia yang bentuknya menjengkelkan seperti ini. Kamu benar-benar pergi.
Benang merah yang berusaha kujaga agar tetap panjang dan tidak kusut, akhirnya terputus jua. Kamu benar-benar hilang. Tak ada ketukan pintu lagi. Tak ada ketukan jendela lagi. Tak ada suara yang mengejutkanku lagi. Tak ada serbuk cahaya terang yang berisi harapan lagi. Kamu benar-benar berhenti.
Aku berhenti.
Walau tak pernah kuketahui akhirnya, namun tetap selesai namanya. Aku mengunci diriku sendiri, dan kamu bersama pilihan bahagiamu yang lain. Tak perlu repot kau kembali. Tinggalah di sana. Tinggalah yang lama. Tinggalah yang bahagia.
Sesak dadaku biarlah dirinya sendiri yang tersiksa. Aku berhenti, kamu jangan ya.
Komentar
Posting Komentar