Dua: Lofi
Malam menghampirinya setiap hari. Kau tahu bagaimana jelasnya perasaan kala menunggu? Dihalang waktu dengan iringan suara yang muncul dari jarum jam dinding berukuran besar. Menemani rindu yang mencekam, katanya.
Rembulan yang nampak cantik dari sini, bercahaya teduh bersanding dengan awan malam. Riuh suara kepalanya. Gemuruh hatinya menggebu. Betapa ia merindukanmu, tuan. Harapan-harapan menjadi jejak-jejak yang melekat dan terikat.
Bagaikan alunan nada piano yang menggema bersama suara hati pun pelan terdengar seperti daftar putar lofi kesukaanku. Tenang, tenteram, dan entah kenapa malah tercium pula semerbak harum anggrek ungu.
Tulisan ini seperti lelucon ya? Hanya mengandalkan khayalan gadis biasa. Gadis yang tengah menunggu seseorang datang menghampiri dan menjemputnya. Gadis yang penuh dengan harapan rasa bahagia. Dia menunggu tuan hatinya.
"Sudikah semesta memberikanku seorang kamu?
Yang entah siapa pun itu, aku akan tetap menunggu."
Malam menjadi pengiring utama setiap bait pada kalimat-kalimat yang kusebut prosa. Celoteh tak bermakna hanya menjadi bualan semata rindu menghampiri gadis itu. Berisik jika disimpan terlalu lama di kepala, maka nikmatilah tuangan ini bersama teh hijau atau semacamnya. Seperti lofi, berjalanlah ia.
Komentar
Posting Komentar