Empat: Lampu Pecah

Raut wajah yang jarang kutemui saat kubercermin, pagi ini aku melihatnya. Murung sekali seperti tidak makan berhari-hari. Sangat tak cantik. Hembusan napas dalam menemani raut wajah itu. Bagaimana caraku menjelaskannya, aku seperti kehabisan kata per bagian.

Tidak ada hasratku untuk melakukan apapun, sangat tidak ingin. Aku hanya ingin diam dan mendengarkan lagu dansa yang menenangkan, berharap tenang menghampiriku. Tapi ternyata tidak semudah itu, aku benar-benar hilang selera.

Beralihku membaca beberapa halaman buku kisah cinta yang lembut dan menghangatkan hati, tapi tetap saja selera baikku tak kembali. Terlemparlah aku dalam selimut dan telungkup pula. Kali ini aku tak bisa menahannya lagi, air mataku jatuh semaunya. Rintihan suaraku yang kencang semoga tak terdengar siapapun karena kututupi diri tepat dibawah bantal.

Beberapa orang telah ahli membuang rasa sedikit demi sedikit sejak masih bersama, tapi tidak untukku. Aku begitu tabu memahami diriku sendiri. Aku begitu sulit menghilangkan seseorang yang sendirinya ingin hilang dari penglihatanku. 

Pengang, aku muak pada diriku sendiri. Aku membencinya.

Lampu berwarna teduh kala itu pun pecah, sama halnya seperti tangisan yang masih terdengar satu jam kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima: Tak Berakhir pun, Selesai namanya

Dua: Lofi

Satu: Ketukan Jendela