Tiga: Prosa yang Berantakan

Banyak kusimpan kalimat-kalimat yang terususun agar menjadi satu genggam, tapi semuanya berantakan. Aku seperti hanya membuih pada setiap jalan yang kencang tiupan anginnya. Aku seperti bunga kapas yang mengelupas dan terbang hilang arah. Aku berantakan, dan kamu tidak kembali.

Karena serapat apapun aku menutup pintu dan jendela agar bisa melupakanmu, tetap saja aku selalu mendapati pintu lain untuk terus merindu dan menunggumu kembali pulang.

Sayangku banyak dan selalu, pulang ya, kembalilah.

Aku tidak tahu sejak kapan keinginanku untuk menulis tentangmu menjadi begitu panjang. Aku tidak tahu sejak kapan harapan-harapan yang fana itu muncul menjadi tumpukan asa yang ujungnya sangat perih kurasa. Aku tidak tahu sampai kapan upayaku ini.

Aku terus bertanya tentang apakah kamu benar-benar akan kembali? Apakah benar pemiliknya hanya aku saja dan tidak ada yang lain? Apakah benar kamu tidak menyimpan siapapun selain aku? 

Semakin kencang jarum jam berdetak, semakin kacau pikiranku. Segala pertanyaan aneh mulai memenuhi isi kepalaku, rasanya tak terbendung. Sesekali sambil kulihat luar jendela sambil berpikir bahwa kamu akan mengejutkanku dengan tiba-tiba masuk. Aku memastikannya berulang-ulang.

Dan benar saja, kamu hilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima: Tak Berakhir pun, Selesai namanya

Dua: Lofi

Satu: Ketukan Jendela